Banyuwangi, SMAN 1 Glagah — Dalam rangka menyambut tahun ajaran 2025/2026, SMAN 1 Glagah menggelar Asesmen Diagnostik bagi seluruh murid baru kelas X, selama dua hari, Rabu (9/7) hingga Kamis (10/7). Kegiatan ini rutin diselenggarakan setiap tahun sebelum dimulainya tahun ajaran baru.
Pada hari pertama, murid mengikuti Asesmen Diagnostik Non-Kognitif. Kegiatan ini difokuskan untuk menggali kesiapan mental, bakat, dan minat calon siswa baru. Dalam pelaksanaannya, SMAN 1 Glagah menggandeng Yayasan Moerty dan didampingi langsung oleh Psikolog, Betty Kumala Febriawati, S.Psi., M.Psi., Psikolog., CH., CHt.
Selain menjadi acuan pemetaan kelas, asesmen ini juga membantu sekolah mengidentifikasi siswa yang membutuhkan dukungan psikologis tambahan atau bimbingan belajar secara personal.

Selanjutnya pada hari kedua, seluruh murid mengikuti Asesmen Diagnostik Kognitif yang meliputi tes potensi akademik dalam berbagai mata pelajaran inti seperti Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tes ini dirancang untuk menilai tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran, serta mengidentifikasi minat dan pilihan mata pelajaran selama di kelas X.
Kepala SMAN 1 Glagah, Bapak Abdullah, S.Pd., M.T, menjelaskan bahwa Asesmen diagnostik meruapakan penilaian yang dirancang untuk mengidentifikasi pemahaman awal, kekuatan, dan kelemahan siswa, baik dalam aspek kognitif maupun non-kognitif, sebelum memulai proses pembelajaran.
“Asesmen diagnostik adalah upaya kami untuk memahami siswa secara utuh sejak awal. Kami ingin memastikan pembelajaran yang akan dijalani benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan karakter masing-masing siswa,” ujar Bapak Abdullah.

Ia menegaskan bahwa asesmen diagnostik bukan semata-mata alat ukur kemampuan awal siswa, namun juga sebagai landasan merancang pembelajaran berdiferensiasi, sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan individu peserta didik.
“Hasil dari asesmen diagnostik ini akan digunakan sebagai dasar oleh guru untuk memberikan pendampingan lebih lanjut bagi siswa yang membutuhkan, serta untuk memotivasi siswa agar lebih aktif dalam proses belajar dan memperbaiki kelemahan yang ada,” jelasnya.
Dengan dilaksanakannya asesmen diagnostik ini, pihaknya berharap setiap siswa baru dapat memulai perjalanan pendidikannya dengan lebih siap, termotivasi, dan didukung penuh sesuai dengan kebutuhan belajarnya.
“Dengan mengetahui kondisi awal siswa, kami dapat mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Harapannya, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensinya,” pungkasnya.***